26 Agustus 2009

“Jangan Sekedar Menduga-duga, Berikanlah Bukti Nyata”


Liputan Konferensi Pers Dirjen Perbendaharaan
Jakarta, perbendaharaan.go.id - Pegawai Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) diduga menjadi salah satu aktor penyebab rendahnya realisasi stimulus proyek. Itulah salah satu substansi pemberitaan halaman pertama koran Kompas (21/8). Padahal, pencairan dana itu sangat terkait dengan Kementerian Negara/Lembaga (K/L) sebagai pemilik anggaran. Hal ini diungkapkan oleh Dirjen Perbendaharaan, Herry Purnomo, dalam konferensi pers hari ini (21/8) di Gedung Prijadi Praptosuhardjo I.

”Pada dasarnya, KPPN itu berfungsi sebagai kantor yang memberikan pelayanan berupa pencairan dana milik satker (K/L, red). Sehingga, tidak memiliki kewenangan sama sekali untuk menghambat proses pencairannya,” ungkap Pak Dirjen. Beliau menjamin bahwa pegawainya, khususnya KPPN Percontohan, memiliki jiwa anti-suap dan tidak akan menghambat proses pencairan dana milik K/L.”Jika ada pegawai KPPN yang menerima suap, berikan kepada saya namanya dan kantornya untuk diberi sanksi tegas. Jadi jangan hanya sekedar dugaan-dugaan yang tidak jelas,” tegasnya.


22 Agustus 2009

10 Pohon Ramadhan

Oleh: Ulis Tofa, Lc

dakwatuna.com - Ibarat sebuah tanaman, maka amaliyah Ramadhan adalah pohonnya. Mediumnya adalah bulan Ramadhan. Pohon apa yang kita tanam di medium Ramadhan, itulah yang akan kita petik, itulah yang akan kita nikmati. Karena “siapa menanam dia yang menuai”.
Pertanyaannya; Pohon apa saja yang perlu kita tanam di bulan suci ini?
Paling tidak ada 10 pohon Ramadhan yang mesti kita tanam di medium bulan Ramadhan ini:

Pohon pertama, shaum. Tidak sekedar menahan hal yang membatalkan shaum –makan, minum dan berhubungan biologis- dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari saja. Karena, kalau hanya sekedar menahan yang demikian, boleh jadi anak kecil, usia SD bisa melakukannya. Betapa anak-anak kita sudah belajar shaum semenjak dibangku sekolah bukan?
Nah, kalau demikian, apa bedanya shaumnya kita dengan mereka?
Harus ada nilai lebih, yaitu menjaga dari yang membatalkan nilai dan pahala shaum.
Apa yang membatalkan nilai shaum. Di antaranya bohong, ghibah, namimah, mengumpat, hasud dan penyakit hati lainnya. Dengan demikian, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan anggota badan kita ikut serta shaum.
“Betapa banyak orang yang shaum, tidak mendapatkan sesuatu kecuali hanya rasa lapar dan dahaga semata.” Begitu penegasan Rasulullah saw.