30 November 2011

Sepenuh Kasih


Seolah hati diombang-ambing dua samudra
Untuk terus atau bertahan pada ketetapan yang awal
Tidak tahu pasti apa yang sebetulnya diinginkan oleh hati ini
Walau mungkin hati ini punya jawabnya sendiri
Sama tidak tahunya apa yang sebenarnya sedang terjadi
Walau mungkin diri ini punya caranya  sendiri untuk mengerti
Seolah sedetik waktu kehilangan ukuranya untuk melaju
Seperti anak panah yang kehilangan arah
Tidak tahu kemana titik sasaran yang harus dituju

Entahlah…
Begitu banyak rasa bercampur di dada
Apakah harus memilih?
Walau aku ingin menyatukanya dalam satu rasa yang indah

Ya Rabbi
Engkaulah yang mengizinkan bunga-bunga bermekaran begitu indahnya
Yang mengizinkan  sungai-sungai menemukan tempat bemuaranya
Yang menjadikan bumi beratap bulan dan bintang-bintang nan menawan

Ya Rabbi
Engkaulah Kuasa
Yang tidak akan pernah luput sekecil apapun dari kuasa-Mu
Hanya kepada-Mu aku tautkan segala kemungkinan
Kepada-Mu aku gantungkan semua harapan
Hanya kepada-Mu aku berlindung dari segala rasa
Hanya kepada-Mu ya Allah aku memohon
Izinkan tempat yang paling indah untuk hatiku bermuara
Hanya kepada-Mu ya Allah
Sepenuh cinta
Sepenuh kasih

Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi, kita tambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!
Ketika engkau terasa sempit memandang dunia, maka pandanglah langit yang luasnya tanpa garis tepian…
Tidak akan jatuh daun dari rantingnya, kecuali Allah telah menetapkan urusannya…
Semarang, 26 September 2011
Salleum Sami
www.dakwatuna.com



26 November 2011

Labirin Waktu

Dalam gelapnya malam aku berjalan. Berjalan dan terus berjalan. Sendiri menapaki jalan yang tak tentu arah. Tak ada kata lelah, karena sungguh lelahku telah habis terbuang.
Hingga kemudian samar-samar mulai tampak sinar rembulan. Walau tampak pucat, sinarnya cukup memberiku terang untuk sekedar menampakkan sekelilingku. Aku terus berjalan. Kali ini dalam siraman sinar rembulan yang semakin terang. Sinar yang menampakkan aura kecantikan sang rembulan. Jalanku kini terlihat jelas. Rembulan cantik menghantarkanku melihat jalan dihadapanku.

Aku tertegun. Sejenak langkahku terhenti. Di sini, di tempat ini, aku mengenali sesuatu, seperti jalan yang pernah ku lalui, dulu di masa yang telah lalu. Entah kapan, mungkin belasan tahun silam. Perlahan mataku menyapu sekeliling. Sejurus kemudian aku tersentak. Ya, masa ini adalah masa yang pernah aku lalui. Masa yang penuh dengan berbagai rasa. Tapi saat ini, di sini, aku seolah diberi pilihan akan masa yang akan kulalui selanjutnya.