26 November 2011

Labirin Waktu

Dalam gelapnya malam aku berjalan. Berjalan dan terus berjalan. Sendiri menapaki jalan yang tak tentu arah. Tak ada kata lelah, karena sungguh lelahku telah habis terbuang.
Hingga kemudian samar-samar mulai tampak sinar rembulan. Walau tampak pucat, sinarnya cukup memberiku terang untuk sekedar menampakkan sekelilingku. Aku terus berjalan. Kali ini dalam siraman sinar rembulan yang semakin terang. Sinar yang menampakkan aura kecantikan sang rembulan. Jalanku kini terlihat jelas. Rembulan cantik menghantarkanku melihat jalan dihadapanku.

Aku tertegun. Sejenak langkahku terhenti. Di sini, di tempat ini, aku mengenali sesuatu, seperti jalan yang pernah ku lalui, dulu di masa yang telah lalu. Entah kapan, mungkin belasan tahun silam. Perlahan mataku menyapu sekeliling. Sejurus kemudian aku tersentak. Ya, masa ini adalah masa yang pernah aku lalui. Masa yang penuh dengan berbagai rasa. Tapi saat ini, di sini, aku seolah diberi pilihan akan masa yang akan kulalui selanjutnya.


Perlahan aku melangkahkan kaki. Menapaki jalan dalam labirin masa laluku. Bukan jalan yang pernah kutempuh tapi jalan yang tidak kupilih di saat yang lalu. Campur aduk rasaku. Kumasuki kembali masa itu dengan rasa yang berbeda. Rasa yang seolah memberiku bahagia.
Aku kembali berjalan, perlahan. Mataku tak henti menyapu segala sesuatu disekitarku. Langkahku terasa ringan. Masih dalam terangnya sinar rembulan, terlihat jelas alamku begitu indah. Kunang-kunang berkelap-kelip, berterbangan dengan cahaya kecilnya. Nyannyian jangkrik bersahutan membuat suasana malam begitu meriah. Tak lagi sunyi. Indah terdengar.
 

Aku tetap berjalan. Kupandangi bintang bintang di langit. Bertaburan, memperindah langit malam hari. Sang rembulan cantik, tersenyum lembut dengan sinar terangnya. Aku tersenyum. Hatiku dipenuhi dengan rasa bahagia. Seolah ingin terbang bersama kunang-kunang, terbang jauh mendekati bintang-bintang.

Sang peri pun datang tiba-tiba. Dan dia benar-benar mengajakku terbang. Mewujudkan anganku yang sejenak terlintas di benakku. Aku melambung, terbang bersama sang peri. Bebas lepas. Kutinggalkan labirin yang tadi kulalui. Masih dalam balutan malam, dibawah sinar rembulan.
Kini aku terbang di langit. Kudekati bintang-bintang yang berkelip, kuingin menyapa rembulan cantik. Ingin kuucapkan terimakasihku karena telah memberiku sinar, hingga aku mampu melihat jalan dan memilih jalan yang ingin kulalui.
Aku terbang berpetualang, masih dalam balutan malam. Terbang di angkasa menjelajah malam. Seolah waktu yang kulalui kini tak berbatas. Kupandangi dari langit jalan labirin yang tadi kutemui. Labirin yang ternyata tak berujung. Ku coba untuk menelusuri kembali arah yang tadi kupilih. Tetap tak berujung.
Keraguan menyelimuti benakku. Tersesatkah aku jika jalan itu tetap kupilih untuk kulalui? Namun mungkin ketersesatan itu adalah sesuatu yang membahagiakanku..
Namun sesaat kemudian kelelahan mulai menyerang. Perlahan aku kembali. Kucari periku. Ternyata dia telah menghilang, tanpa kusadari. Tak lagi menemaniku terbang dalam balutan langit malam.

Kujejakkan kembali kakiku di tanah, dalam labirin yang tadi kutinggalkan. Aku ragu untuk terus melangkah. Semangat untuk berjalan, menemukan hal-hal baru yang menyenangkan seolah menguap begitu saja.
Kini yang ada hanyalah rasa lelah. Lelah seluruh jiwa ragaku. Teringat kembali akan apa yang tadi kulihat, labirin ini tak berujung. Benar-benar tak berujung!
Semakin aku berjalan memasukinya, semakin jauh jarakku untuk kembali pulang.
Pulang. Ya...pulang!
Berharap saat aku pulang bukan karena aku harus pulang tapi karena aku memang benar-benar menginginkannya untuk pulang.

Aku kembali tertegun. Kali ini dalam kebingungan yang teramat sangat. Aku hanya terpaku berdiri. Diam dalam gelap malam. Kusadari kemudian, sinar rembulan cantik pun telah menghilang. Tak terlihat apapun. Tapi masih tersisa rasa bahagiaku. Masih tersisa senyum di hatiku.

Aku kembali tersentak. Apakah semua ini hanya mimpi?
Karena yang kutemui kini,
sesuatu yang tak bisa kuhindari.
Masaku telah kembali,
menanti untuk aku tapaki....

Tidak ada komentar: