08 Maret 2014

Cerita Kepadatan yang Menggila

Setiap hari saat berbondong-bondong manusia mengejar waktu yang sama. Sementara fasilitas transportasi massal yang begitu seadanya sepertinya tak pernah mengalami kemajuan berati, stagnan, bahkan cenderung dibiarkan seadanya. Tapi keadaan sering tak memberi pilihan lain. Karena kebutuhan akhirnya lebih banyak yang pasrah menerimanya sebagai sesuatu yang biasa dan seperti itulah keadaan yang harus dihadapi dan dijalani. Cobalah tengok kepadatan yang terjadi di saat pagi hari awal mulainya jam kerja. Pun di saat sore hari ketika jam kerja usai. Mobilitas yang begitu dinamis. 

Saat-saat seperti itu cobalah tengok sejenak ke tempat permberhentian transportasi umum. Entah itu di halte bis biasa maupun bis trans Jakarta, stasiun, bahkan terminal. Tak terkecuali di pinggir-pinggir jalanpun banyak bertebaran penunggu transportasi untuk dapat terangkut menuju tempat aktifitas masing-masing. Namun karena transportasi umum yang diharapkan bisa menjadi solusi mobilitas ternyata masih jauh dari harapan, maka sebagian mobilitas terjadi dengan fasilitas milik pribadi. Tak tertahankan, kepadatan jalan bahkan macet yang kadang mengular pun menjadi hal yang biasa ditemui terutama di pagi dan sore hingga malam hari di hari kerja. Kepadatan yang menyemut, kebisingan mesin bak lebah berkerumun. Belum lagi polusi gas buang kendaraan yang tak terhindakan.

Kepadatan yang menjadi rutinitas, seolah tak pernah dapat terhindarkan. Aku bersama ratusan bahkan ribuan manusia itu mengalami dan menjalanjnya setiap hari. Ungkapan "siapa sutuh datang Jakarta" sepertinya hanyalah kata-kata yang terbang bersama angin lalu. Ibu kota tetap menjadi incaran. Tempat menggantungkan berbagai harapan. Hidup memang harus memilih. Dan siapapun itu semestinya bertanggung jawab penuh atas setiap pilihannya.

Suatu ketika, kepadaan yang kutemui hari itu benar-benar menggila. Tempat yang terbatas, manusia yang melebihi kapasitas angkut, sementara waktu yang dikejar berada pada range yang sama. Lalu apa yang terjadi kemudian? Sepertinya hukum rimbalah yang kemudian menjadi aturan. Siapa cepat dia dapat, siapa kuat dia terangkut. Jika kemudian beruntung dapat terangkut, tengoklah seperti apa situasi di dalamnya. Begitu rapat. Bahkan semut dan laba-laba pun akan berpikir ulang bila ingin melintas diantara kerapatan itu. Tangan-tangan yang terentang tinggi. Bukan seperti murid yang ingin bertanya pada gurunya, atau sekedar melambaikan tangan pada seorang kawan, pun bukan pula latah meniru iklan pemutih yang memamerkannya kulitnya. Tapi tangan-tangan itu terentang untuk menggapai dan mendapatkan pegangan sehingga tubuhnya dapat berdiri tegak dan bertahan dari gelombang dorongan yang dahsyat. 

Begitu pula dengan kaki-kaki yang berserakan tak beraturan. Dalam keadaan seperti itu bahkan mata pun tak lagi mampu melihat posisi kaki kita dimana. Begitu kacau balau. Andai terjadi pertukaran tak sengaja atas sepatu-sepatu yang digunakan, mungkin tak terlalu menjadi masalah besar. Namun yang begitu aku takutkan adalah bila tiba saatnya nanti aku tiba di stasiun tujuan dan harus menembus lapisan benteng manusia yang tak beraturan itu, melewati kaki-kaki yang berserakan itu, tak hanya sepatu yang tertukar tapi kakiku pun ikut tertukar......


15 Januari 2013

K a n g e n......

Lama tidak membuka blog ini, lama juga tidak menuliskan sesuatu sekedar untuk menulis cerita, berbagi sesuatu untuk bisa jadi bacaan.

Kangen rasanya untuk bisa bercerita dan menulis lagi.

Entah karena kesibukan yang dibikin bikin sesibuk-sibuknya,
atau mungkin karena waktu yang seolah berlalu begitu cepat, berlari berkejaran dengan banyak hal yang seharusnya dan ingin kulakukan,
atau ide-ide yang hanya melintas tapi tidak berkembang, hingga tak mampu menggerakkanku untuk menuangkannya di dalam sebuah tulisan,
ataukah hanya karena rasa malas yang jadi biang keroknya.

Ya.. Malas, satu kata yang bisa jadi penyakit yang menghambat kemajuan.
Karena malas, kita tak jadi melakukan sesuatu
Karena malas, kita tak dapat menambah ilmu,
Karena malas juga kita mungkin melewatkan hal-hal yang penting


Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk tidak membiarkannya besemayam di diri dan pikiran kita?
Bangkit... ya bangkitlah..
Bangun semangat..
Bangun keinginan kuat..
Banyak yang bisa kita lakukan 
Banyak yang harus kita lakukan
Banyak hal yang masih perlu diketahui ilmunya..
Banyak hal.. banyak sesuatu.. dan banyak apa-apa lagi...
Ayo.. semangat yuk.. semangat....

Kangen... ya.. aku kangen menuliskan ini semua  :D

03 Maret 2012

Rumah kami, dan kenangan....

Rumah itu menjadi saksi bisu atas segala aktifitas dan semua hal yang terjadi antara kami, para penghuninya. Andai dia bisa mengungkapkan, pastilah banyak cerita yang dapat disampaikannya. Berbagai rasa tertuang mewarnai hari-hari kami di sana. Ada rasa bahagia, berbagi, rasa suka, ketenangan, kedamaian hingga rasa duka, kemarahan, kebencian, kehilangan dan semua rasa yang ada pernah singgah di sana. Tak heran, karena di sanalah tempat kami ada, berkumpul bersama menjalani hari-hari kami.

Sebelumnya selama bertahun-tahun masa kecil kami dihabiskan di sebuah gang sempit nan buntu dengan pemukiman yang padat. Lingkungan yang lebih baik menjadi pertimbangan utama ibunda untuk membawa kami menuju rumah itu. 
Tak salah memang. Masih segar dalam ingatan, masa kecil kami dilalui dengan saat-saat bermain di gang sempit yang mengharuskan kami selalu waspada terhadap kendaraan yang lalu lalang, bercampur dengan pedagang keliling yang seolah seliweran tiada henti. Belum lagi warga penghuninya yang begitu majemuk, memberi warna tersendiri. Mudah terdengar suara musik yang di-stel dengan sekeras-kerasnya yang mungkin bisa didengar oleh warga satu RT. Belum lagi ketika terjadi "perang domestik", suaranya pun kadang begitu jelas terdengar hingga menjadi berita utama para penggosip, dan anak-anak pun ikut-ikutan mendengar pembicaraan yang begitu heboh yang seharusnya tak pantas didengar oleh kami. Cerita dari tetangga pun banyak ragamnya. Ada cerita tentang anak tetangga sebelah yang mencoba menjadi petinju karena perawakannya yang kekar, namun bagi kami cukup menyeramkan karena tampangnya yang mirip dengan preman. Belum lagi cerita getir yang didapat dari anak tetangga yang mendapat perlakuan tak senonoh saat pulang kerja sebagai buruh pabrik di malam hari hingga akhirnya hamil tanpa status menikah. Ada lagi cerita sang mantan polisi yang masih menularkan rasa kebanggaannya akan profesinya tersebut, hingga kadang kebanggaannnya menjadi sedikit gangguan bagi para tetangganya. Cerita yang lumayan sering terjadi adalah manakala terjadi perang antar tetangga. Hampir dapat dipastikan menjadi tontonan yang menarik buat warga lainnya dan menjadi berita utama berhari-hari. Bahkan sering terjadi peperangan itu dipicu dari anak-anak mereka yang saling bertengkar saat bermain dan mengadu pada orang tuanya, hingga mereka pun tersulut untuk membela anak mereka masing-masing. Lucunya di saat mereka masih bersitegang, anak-anaknya sudah kembali bermain bersama lagi dan kadang ikut-ikutan menjadi penonton dari perseteruan tersebut.
Keadaaan dengan cerita-cerita beragam seperti itulah yang menjadi warna di masa kecil kami.

16 Februari 2012

Untuk direnungkan....

Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup
yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir,
namun tidak dari engkau,

Mereka ada padamu,
tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu,
tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur,
dan anak-anakmulah
 anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat

Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

~  Khalil Gibran ~

10 Februari 2012

Makna Cinta dan Pernikahan

Suatu ketika plato terlibat perbincangan dengan dengan gurunya. Plato menanyakan makna cinta dan gurunya pun menjawab, "Masuklah kedalam hutan, pilih dan ambilah satu ranting yang menurutmu paling baik, tetapi engkau haruslah berjalan kedepan dan jangan kembali kebelakang. Pada saat kau memutuskan pilihanmu, keluarlah dari hutan dengan ranting tersebut."
Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluarlah Plato tanpa membawa sebatang rantingpun.
Gurunya pun bertanya, maka jawab Plato,"Saya sebenarnya sudah menemukan ranting yang bagus, tetapi saya berpikir barangkali didepan saya ada ranting yang lebih baik. Tetapi setelah saya berjalan kedepan ternyata ranting yang sudah saya tinggalkan tadilah yang terbaik. Maka saya keluar dari hutan tanpa membawa apa-apa."
Guru itupun berkata, "Itulah cinta". Kita selalu ingin mencari yang terbaik, terindah dan sesuai dengan yang kita harapkan. Namun tanpa sadar justru kita tidak mendapatkan apa-apa, sementara sang waktu akan terus berjalan.

Lalu Plato pun bertanya apakah makna pernikahan?
Gurupun menjawab," Sama seperti ranting tadi, namun kali ini engkau haruslah membawa satu pohon yang kau pikir paling baik dan bawalah keluar dari hutan."
Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluarlah plato dengan membawa pohon yang tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu indah.

Gurunya pun bertanya, maka jawab Plato, "Saya bertemu pohon yang indah daunnya, besar batangnya, tetapi saya tak dapat memotongnya dan pastilah saya tak mampu membawanya keluar dari dalam hutan. Akhirnya pohon itu pun saya tinggalkan.
Kemudian saya menemui pohon yang tidak terlalu buruk, tidak terlalu tinggi dan saya pikir mampu membawanya karena mungkin saya tidak mungkin menemui pohon seperti ini didepan sana.
Akhirnya saya pilih pohon ini karena saya yakin mampu merawatnya dan menjadikannya indah."

Lalu sang guru berkata,"Itulah makna pernikahan." Begitu banyak pilihan didepan kita seperti pohon-pohon dan ranting-rantingnya didalam hutan. Tapi kita mesti menentukan satu pilihan karena kesempatan itu hanya satu kali. Kita harus terus maju seperti waktu yang beredar kedepan yang tidak pernah tersimpan pada hari semalam, kemarin atau bersemayam pada masa lalu kita.

Terkadang sulit bagi kita untuk menentukan, tapi pilihan harus tetap kita buat. Dan jangan pernah menyesal karena itu, meskipun hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan semula.  
@Kang Azev- status FB

26 Januari 2012

Benda kecil itu bernama : Rokok !

Siapa yang tak kenal rokok. Benda kecil itu menjadi barang yang sangat mudah ditemukan. Bahkan di hampir setiap tempat pun akan dengan mudah kita temui rokok dengan para penikmatnya.
Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam dan mulailah tersebar ke seluruh pelosok dunia.

Di Indonesia rokok telah menjadi sesuatu yang benar-benar memasyarakat. Jika anda pergi kemanapun, akan dengan mudah kita dapati para penikmat rokok. Di jalanan, di warung, toko-toko, di terminal, di kendaraan umum, di perkantoran, di kampus bahkan di rumah sakit maupun di sekolah pun dapat kita temui penikmat rokok. Tak hanya orang dewasa, pria maupun wanita, kaum remaja bahkan beberapa waktu lalu heboh berita anak balita pun gemar merokok. Tak hanya dinikmati kalangan berpunya yang mapan, pengangkut sampah, tukang ojek, sopir-sopir kendaraan umum, pedagang asongan bahkan pengamen di jalanan pun tak lepas dari rokok

16 Januari 2012

Mengenal Lebih Jauh Penyakit Diabetes

Lingkaran biru, adalah simbol bagi diabetes mellitus, sebagaimana pita merah untuk AIDS.  (IDF Chooses Blue Circle to Represent UN Resolution Campaign Unite for Diabetes, 17 March, 2006)



Jumlah pengidap diabetes di Indonesia menurut data WHO pada tahun 2009 mencapai 8 juta jiwa dan diprediksi akan meningkat menjadi lebih dari 21 juta jiwa pada tahun 2025. Itu yang membuat Indonesia menempati peringkat empat negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Survey terhadap pengidap diabetes di Jakarta menunjukkan bahwa 1 dari 8 orang mengidap diabetes. Baik pria maupun wanita, tua maupun muda, tinggal di kota maupun desa, memiliki risiko diabetes yang sama.
  
Nama lengkap diabetes adalah diabetes mellitus yang berarti "gula madu". Istilah "diabetes melitus" berasal dari Bahasa Yunani yang jika diterjemahkan berarti "mengalirkan melalui pipa dengan tekanan atmosfer" dan dari Bahasa Latin yang dapat diterjemahkan menjadi "semanis madu".
Pengertian dari Bahasa Yunani dan Latin menggambarkan diabetes dengan tepat. Karena air melewati tubuh penderita diabetes seolah-olah dialirkan dari mulut lewat saluran kemih dan langsung keluar dari tubuh. Air seni diabetisi (pengidap diabetes) rasanya manis karena mengandung gula. Dulu, salah satu tes untuk diabetes ialah dengan menuangkan air seni sang pasien ke dekat sarang semut. Jika serangga itu mengerumuni air seni, hal ini menunjukkan adanya gula. Itu sebabnya diabetes sering disebut sebagai penyakit kencing manis.

Apa itu Diabetes?
Setiap makanan yang kita santap akan diubah menjadi energi oleh tubuh. Dalam lambung dan usus, makanan diuraikan menjadi beberapa elemen dasarnya, termasuk salah satu jenis gula, yaitu glukosa. Jika terdapat gula, maka pankreas menghasilkan insulin, yang membantu mengalirkan gula ke dalam sel-sel tubuh. Kemudian, gula tersebut dapat diserap dengan baik dalam tubuh dan dibakar untuk menghasilkan energi.
Indonesia menempati peringkat empat negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia
Ketika seseorang menderita diabetes maka pankreas orang tersebut tidak dapat menghasilkan cukup insulin untuk menyerap gula yang diperoleh dari makanan. Itu yang menyebabkan kadar gula dalam darah menjadi tinggi akibat timbunan gula dari makanan yang tidak dapat diserap dengan baik dan dibakar menjadi energi. Penyebab lain adalah insulin yang cacat atau tubuh tidak dapat memanfaatkan insulin dengan baik.
Insulin adalah hormon yang dihasilkan pankreas, sebuah organ di samping lambung. Hormon ini melekatkan dirinya pada reseptor-reseptor yang ada pada dinding sel. Insulin bertugas untuk membuka reseptor pada dinding sel agar glukosa memasuki sel. Lalu sel-sel tersebut mengubah glukosa menjadi energi yang diperlukan tubuh untuk melakukan aktivitas. Dengan kata lain, insulin membantu menyalurkan gula ke dalam sel agar diubah menjadi energi. Jika jumlah insulin tidak cukup, maka terjadi penimbunan gula dalam darah sehingga menyebabkan diabetes.
Penyebab penyakit kencing manis atau diabetes tergantung pada jenis diabetes yang diderita. Ada 2 jenis diabetes yang umum terjadi dan diderita banyak orang yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Perbedaannya adalah jika diabetes tipe 1 karena masalah fungsi organ pankreas tidak dapat menghasilkan insulin, sedangkan diabetes tipe 2 karena masalah jumlah insulin yang kurang bukan karena pankreas tidak bisa berfungsi baik.
  

12 Januari 2012

Kereta Khusus Wanita


Sekitar awal bulan Agustus tahun 2010 lalu, PT KAI meluncurkan layanan baru yaitu menyediakan gerbong / kereta yang khusus diperuntukkan untuk penumpang wanita. Gerbong yang dipilih adalah gerbong pertama dan terakhir di setiap rangkaian kereta. Gagasan untuk peluncuran kereta khusus wanita ini, sebagai jawaban atas adanya beberapa kasus pelecehan seksual yang sering diterima penumpang wanita saat berdesak-desakan di dalam transportasi umum. Sejauh yang saya tahu, di KRL sendiri belum ada laporan mengenai kasus tersebut, yang santer diberitakan kasus tersebut terjadi di bus trans Jakarta, yang memang seringkali padat penumpang, terutama di jam-jam sibuk saat berangkat dan pulang kantor. Namun tentunya kebijakan PT. KAI tersebut perlu mendapat apresiasi dari kita semua.

Sejak diluncurkan hingga saat ini, saya termasuk pengguna setia KKW. Setiap hari, saat pergi dan pulang kantor saya memilih untuk menggunakan KKW. Di samping lebih nyaman karena isinya perempuan semua juga saya merasa lebih aman. Nyaman di sini dalam artian bahwa saya tak perlu risih bila harus berdesak-desakan. kadang badan kita saling menempel satu sama lain karena penuhnya penumpang di kereta. Pada awalnya KKW memang terasa nyaman dalam artian sesungguhnya. Namun sekitar bulan Juli 2011, semenjak KRL Ekspres ditiadakan dan diganti dengan Commuter Line yang memberhentikan kereta di setiap stasiun yang dilalui, ukuran kenyamanannya menjadi jauh berkurang (di saat jam-jam sibuk pergi & pulang kantor).
Sudah menjadi pemandangan biasa kereta dipenuhi penumpang yang sama-sama ingin segera sampai di tempat tujuan. Tak terkecuali di kereta khusus wanita pun demikian. Kadang, walau sudah terlihat penuh pun, saat kereta berhenti penumpang lain yang menunggu tetap memaksa untuk masuk. Akibatnya, jadilah penumpang di dalamnnya bak pepes teri yang dipadatkan. Bahkan saat padat begitu pun, seringkali fasilitas AC pun tak memadai. Jadilah penumpang di dalamnya bak pepes teri di dalam oven....

04 Januari 2012

Cerita sahabat, Sebuah Perjalanan

Pertemuan yang tak terduga, saat kami berlibur di pantai ini. Seorang sahabat lama, teman sekolahku ternyata juga menginap di hotel yang sama. Hanya saja dia tidak sedang berlibur, namun sedang menjalankan tugas profesinya.  dia yang kini telah berhasil mencapai cita-cita yang diinginkannya sejak kami sekolah dulu, menjadi seorang psikolog. 
Masih kuingat, kami dulu selalu bersama-sama, beraktifitas bersama, bersaing dalam pelajaran di kelas, dan kami sama-sama hobi membuat karangan cerita. Adalah kebiasaan kami saat itu untuk saling berkirim surat, bercerita tentang  apa saja, tentang hari-hari kami, bahkan tak jarang pula menuliskan khayalan dan cita-cita kami nantinya. Aku ingat pasti, cita-cita yang pernah diangankannya adalah menjadi psikolog, menjadi dokter anak dan menjadi guru TK. Kini dia dapat mencapai cita-citanya itu dan menikah dengan seorang dokter anak. 

Siang ini kami duduk berdua di pantai. Anak-anak kubiarkan bermain-main di pasir dan bermain-main dengan pecahan ombak yang mencium pantai. Terlihat begitu mengasyikkan buat mereka. Sesekali kudengar tawa riangnya di sela-sela hembusan angin dan deburan ombak. 

"Apa kamu bahagia, Ra?" sebuah pertanyaan menggelitik di awal pembicaraan kami siang itu. "Ah, dasar psikolog" ujarku. "Pertanyaan standar buat pasienmu ya?" Dia tersenyum, "Bukan, itu bagian pembuka untuk kita introspeksi atas apa yang telah kita dapat & kita jalani." Aku mencerna apa yang dia katakan itu. Ilmu dan pengalaman yang didapatnya membuat dia jauh lebih bijaksana seperti sekarang ini. Dia memandangku, aku jadi kikuk dibuatnya. 

29 Desember 2011

Bersepeda yuk!

Bermain sepeda salah satu kesukaanku sejak kecil. Masih kuingat saat aku mulai belajar mengendarainya. Masih kuingat juga berkali-kali aku jatuh karena kehilangan keseimbangan, saat kedua roda kecil di samping kiri kanan sepedaku dilepas. Sampai akhirnya aku mampu mengendarainya dengan nyaman, dan mulailah berani menjelajah lingkungan di sekitar rumah tempat tinggal kami saat itu.
Sepeda buat anak-anak adalah mainan yang mengasyikan, sementara buat orang dewasa, bersepeda bisa menjadi hobi dan juga sebagai sarana untuk berolahraga. Tak jarang pula orang yang mengunakan sepeda sebagai alat transportasinya sehari-hari. Tak heran jika sepeda tetap lesatri dan tetap digunakan hingga saat ini. Jika anda berjalan-jalan ke taman di hari libur atau berjalanlah di sekitar rumah anda, pastilah akan anda temui orang bersepeda. Entah itu anak-anak kecil yang kadang disuapi makan sambil dituntun sepedanya, atau mungkin anak-anak yang memang bermain sepeda, atau bahkan pedagang keliling yang menjajakan jualannya dengan bersepeda. Pemandangan yang umum kita temui.


Dan kini, aktifitas bersepeda juga menjadi agenda rutin di setiap akhir pekan buatku. Aktifitas yang sudah berlangsung hampir 2 tahun belakangan ini. Lumayan untuk sekedar refreshing dan sedikit berolah raga setelah selama sepekan menjalani rutinitas yang cukup melelahkan. Kebetulan tempat tinggalku saat ini dekat dengan kampus Universitas Indonesia. Ke sanalah biasanya tempat tujuanku. Tempat yang nyaman dan asri, dengan pepohonan yang rimbun di mana-mana sehingga udara di sana pun terasa sejuk dan segar. Tak heran bila di akhir pekan di lingkungan UI banyak masyarakat yang berolahraga. Tak ketinggalan masyarakat yang gemar bersepeda pun banyak yang menyalurkan hobiunya di sana. Pihak UI sendiri memang menyediakan fasilitas bagi pengguna sepeda. Jalur-jalur khusus sepeda dibangun mengelilingi lingkungan UI dan melintasi taman-taman UI yang ditumbuhi pepohonan rindang. Bagi para mahasiswa, dosen maupun seleruh pegawai UI bahkan disediakan sepeda-sepeda khusus yang dapat digunakan di lingkungan kampus dengan cuma-cuma. Cukup dengan memperlihatkan kartu identitas mereka sudah dapat menggunakannya. Tempat parkir khusus untuk sepeda-sepeda ini pun telah disediakan, hingga apabila sudah tidak digunakan cukup diparkir di tempat tujuan yang sudah disediakan tersebut, dan nantinya akan ada petugas yang mengumpulkan kembali sepeda-sepeda itu.

25 Desember 2011

Surprise

"Maafkan, jika saat ulang tahun kita, 
atau saat ulang tahunmu 
aku tak memberimu sebuah bingkisan, 
bukan karena aku lupa, 
tapi karena kesempatan & kendala yang ada, 
mungkin hanya ucapan kata tidaklah terlalu berarti. 
Andai aku mampu, 
 walau engkau mengajakku untuk pergi kebulan, 
pasti akan aku lakukan..."

Aku tertegun dan terharu. Benar-benar terharu. Di tanganku kugenggam erat sebuah bingkisan cantik. Hari ini bukan hari ulang tahunku, bukan pula hari jadi pertemuan kami. Kutatap matanya dalam-dalam. Kutemukan ketulusan di sana. Kata-katanya membuatku terkejut dan aku tak pernah menduga dia akan mengatakannya.Mungkin bagi sebagian besar orang bukan suatu yang aneh, hanya kata-kata yang biasa. Tapi tidak buatku. Walau aku tahu terdengar sedikit gombal, tapi ternyata aku menyukai untuk sesekali digombalin.
Lima belas tahun hidup bersamanya, bukan waktu yang sebentar untuk mengenal dirinya. Saat-saat seperti ini sudah sekian lama kuimpikan. Dari awal pertemuan kami sampai akhirnya keputusan untuk saling mengikat janji memang kami jalani dalam jarak waktu yang tidak terlalu lama. Itulah makanya kami belajar untuk saling mengenal satu sama lain lebih jauh justru setelah kami menikah. Pacaran sesungguhnya yang kami jalani adalah setelah kami syah sebagai suami istri. Bukan hal yang mudah untuk menyatukan dua pribadi yang berbeda. Apalagi kami berasal dari daerah dan budaya yang jauh berbeda. Banyak sifat, kebiasaan yang selama ini terbiasa bagiku, mungkin buat dirinya adalah sesuatu yang tidak biasa. Begitupun sebaliknya. 

22 Desember 2011

Hari Ibu




Berbicara mengenai Hari Ibu, yang terlintas di benak kita tentunya peran & jasa-jasa ibu bagi anak-anaknya dan keluarga serta peran para wanita lainnya pada umumnya. Jasa dan kasih sayang ibu itu sudah pasti tak terhingga. Namun bagi segolongan orang, Hari Ibu juga dianggap sebagai momen untuk menunjukkan kemampuan para wanita berkiprah di dunia kerja, serta kiprah mereka dalam keluarga. Memang tak ada salahnya di balik tuntutan keinginan hidup yang layak serta keinginan memberikan kontribusi kepada masyarakat akan ilmu yang dimilikinya, para wanita, istri dan para ibu turut serta berkiprah di masyarakat. Hanya saja, menurut saya, batasan-batasan untuk berkiprah itu tetaplah harus ada dan dipatuhi. Namun bagi kaum feminis, kesetaraan gender menjadi topik yang memang harus diperjuangkan. Yah, berbeda pendapat itu pun juga hal yang biasa, asalkan masing-masing tetap bertanggung jawab atas pilihannya.
Bertepatan dengan hari ini, yang terlintas di benak saya saat ini bukan hanya bagaimana jasa-jasa ibu buat kita. Itu sih sudah pasti dan tak perlu diperdebatkan lagi. Yang terpikirkan di benak saya justru cerita-cerita, pengalaman dari berbagai sumber tentang para ibu yang saat ini berperan ganda. Ya sebagai istri, ibu dari anak-anaknya dan juga sebagai seorang yang bekerja di luar rumah. Entah itu untuk turut mencari nafkah ataukah hanya sekedar hobi menyalurkan keinginan untuk dapat berekspresi di masyarakat. 


Ketika saya bertugas di Jawa Timur, ada cerita seorang kawan yang sampai saat ini masih saya ingat dan benar-benar saya ambil pelajaran dari pengalamannya. Tersebutlah kawan saya itu sebagai seorang istri pejabat di salah satu BUMN terkemuka. Beliau mempunyai 3 orang putra yang jaraknya satu sama lain tidak terpaut jauh. Hari-hari kegiatannya selalu penuh dengan acara. Di samping beliau sebagai pegawai, beliau pun tak jarang harus mengikuti & menjadi pelaksana acara dari kegiatan-kegiatan "sampingan" di kantor suaminya.

22 September 2011

Tanpa Judul

Taman kecilku dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah, 
kuncupnya bermekaran seiring waktu yang berjalan. 
Segenap kemampuan telah kucurahkan 
agar bunganya tetap bermekaran, 
tumbuh dan berkembang, 
memberikan keindahan, 
menampakan kecantikannya. 
Kumbang-kumbang yang setia datang 
kupu-kupu yang senantiasa terbang mengitarinya 
membuat suasana tamanku begitu semarak 
begitu menyejukan hati. 


Namun, 
ketika badai itu datang perlahan, 
taman kecilku mulai tersaput kabut 
bunga-bungaku yang semula begitu indah 
kuncupnya tak lagi mekar 
warna warni indah mulai menghilang 
tampak pucat 
pudar 
hilang semarak 
yang ada hanya kesunyian...

29 Agustus 2011

Lebaran & Mudik.....


Saat lebaran adalah saat-saat berkumpulnya seluruh keluarga. Tak heran bila kemudian fenomena mudik lebaran menjadi sesuatu yang khas setiap tahun. Kejadian yang bisa dianggap kejadian luar biasa ini mungkin jauh lebih heboh terjadi di negeri ini.
Di saat mendekati masa lebaran, segala jenis angkutan transportasi dikerahkan bahkan pemerintah maupun pihak-pihak yang berkompeten dalam urusan transportasi melakukan penambahan di sana-sini, baik dari segi penambahan armadanya, tambahan jadwal keberangkatan, tambahan terminal/tempat pemberangkatan sampai penambahan harga tiket (tentunya) dari hari biasanya. Semua jajaran ikut sibuk mempersiapkan dan menghadapi masa-masa mudik lebaran.

Tak terkecuali para pelaku mudik lebaran. Tengoklah bagaimana orang-orang, sebagian besar adalah para perantau, mempersiapkan diri untuk mudik. Mulai dari memastikan diri mendapat tiket angkutan, atau mempersiapkan kendaraan yang akan dipakai sampai membeli buah tangan untuk sanak saudara di kampung. Tak ketinggalan pula persiapan untuk dapat tampil maksimal dihadapan orang-orang di kampung. Tak heran bila persiapan untuk mudik ini telah dipersiapkan bahkan bagi sebagian orang persiapan mudik sudah dilakukan sejak awal memasuki bulan Ramadhan.

03 November 2010

8 Tanda Anda Sudah Sehat !!

Ketika pergi ke rumah sakit, biasanya dokter akan mengeluarkan alat ukur. Mulai dari pengukur tekanan darah, detak jantung, sampai kadar gula. Dalam kondisi tertentu, dokter juga kerap memastikan kesehatan seseorang lewat berbagai tes di laboratorium.
Pada dasarnya ada angka atau patokan yang harus kita ingat dalam urusan kesehatan. Artinya, kita harus tahu berapa angka tekanan darah yang normal atau kadar kolesterol. Dengan tahu angka-angka ini, kita bisa menjaga diri sehingga tak perlu sampai kebablasan dan menanggung akibat yang jauh dari menyenangkan. Menurut para pakar, setidaknya Anda perlu mendapatkan delapan angka penting ini. Silakan dibaca dan dicamkan selalu!

1. Tekanan darah: 120/80
Menurut dr Arthur Tan, spesialis jantung dari Gleneagles Hospital, darah tinggi berpotensi menjadi pembunuh nomor satu di dunia di tahun 2020. Darah tinggi sering menyerang tanpa gejala. Oleh sebab itu, pemeriksaan tekanan darah rutin wajib hukumnya. Lakukan sebulan sekali dengan alat ukur digital pribadi, atau setahun dua kali oleh dokter.
Pastikan tekanan darah tidak lebih dari 120/80 mmhg. ”Paling tidak 10 di atas atau di bawah 120/80. Lebih atau kurang dari itu harus mendapat perawatan dokter,” jelas dr Wiwin Ristanto SpB, spesialis bedah dan kewanitaan RS Onkologi Surabaya.

2. Kolesterol: 2 banding 1
Menurut dr Johanes Chandrawinata, MND, SpGK, spesialis gizi klinis dari RS Melinda Bandung, apabila kadar kolesterol total kita di atas 200 mg/dL, itu disebut tinggi. Yang normal adalah jika di bawah 200 mg/dL. Dengan perhitungan, LDL (kolesterol buruk) di bawah 100 mg/dL dan HDL (kolesterol baik) di atas 45 mg/dL.

Singkatnya, perbandingan antara LDL dan HDL adalah 2:1. Semakin tinggi kadar HDL, semakin tinggi pula perlindungan terhadap penyakit jantung koroner.



07 Oktober 2010

Aku Ingin Bercerai


oleh KIS (Komunitas Istri Sholehah)@facebook.com pada 06 Oktober 2010 jam 14:34

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lsayakan untuk merubah pikiranmu?”.
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.
Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan …
“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya


22 September 2010

Refleksi Diri

Ulang tahun bisa dijadikan sebagi momen untuk berintrospeksi atau juga untuk mengenang masa-masa yang telah dilalui. Segala cerita suka, duka, sedih, senang tentunya akan terekam menjalin suatu cerita kehidupan.
Tiga puluh delapan tahun, bukanlah waktu yang sebentar. Kadang aku merasa baru beberapa saat yang lalu masa kecilku kujalani, rasanya baru saja masa remajaku berlalu, hingga saat ini tak terasa pula anakku pun sudah mulai masuk masa remaja.
Bila mengenang masa yang telah lalu, hidupku penuh dengan warna. Masa kecilku bersama orangtua dan saudaraku, kulalui dengan penuh kebahagiaan dan keceriaan selayaknya dunia anak-anak. Bermain, bersekolah, bercanda bahkan tak terlewatkan masa-masa bertengkar. Masih terekam dalam ingatan saat-saat kami pergi bersama mengunjungi tempat-tempat wisata atau hanya sekedar berjalan-jalan dan bermain di taman. Kebersamaan memang selalu indah untuk dikenang..


24 Juni 2010

Catatan Kecil untuk seorang teman


Perpindahan ke kantor baru kali ini membuatku kembali harus beradaptasi dengan segala atributnya. Ya lingkungannnya, orang-orangnya, tugas-tugas maupun suasananya. Alhamdulillah karena telah mengalaminya beberapa kali, untuk kali ini pun tak ada hambatan yang berarti.
Baru beberapa bulan aku bergabung di kantor ini, sebuah kejadian yang sangat mengejutkan terjadi. Kawan kami meninggal dunia di saat menjalankan tugasnya di front liner. Pagi itu memang menjadi pagi yang kelabu. Tak seorangpun mengira hal itu terjadi. Aku belum terlalu mengenal dirinya. Baru beberapa kali sempat bertegur sapa dengannya. Namun menurut teman-teman sekantor, dia adalah orang yang sangat baik hatinya, rajin dan punya dedikasi serta tanggung jawab yang tinggi. Semua orang menyayanginya. Semua orang kagum padanya. Tapi itulah ketentuan Tuhan yang apabila memang sudah tiba "waktunya" tak seorangpun dapat menolaknya, pun terhadap orang sebaik kawan kami itu.


21 April 2010

Ka eR eL


Sebelumnya, tak pernah sedikitpun terpikir untuk menjadikan KRL sebagai sarana transportasi. Pemandangan penumpang KRL yang selama ini saya ketahui, benar-benar pemandangan yang bikin miris. Nyawa manusia seakan tak ada artinya. Terlihat jelas, di saat jam-jam sibuk di pagi hari atau sore menjelang malam, gerbong-gerbong yang panjang berderet itu penuh sesak dengan penumpang, sampai-sampai atap gerbong yang nota bene bukan tempat untuk penumpang pun ikut-ikutan penuh bahkan beberapa ada yang hanya 'menempel' di bagian belakang gerbong. Ketika kemudian mutasi tugas ke Jakarta saya terima, mengharuskan kami untuk membuat pilihan di mana kami akan menentukan tempat tinggal. Semaksimal mungkin kami berusaha untuk mempertimbangkan berbagai hal sebelum akhirnya pilihan kami jatuh di kota Depok.
Apa yang sebelumnya 'tak pernah terlintas'pun kini menjadi salah satu bagian kehidupan kami. Ya, jarak tempuh yang lumayan jauh antara rumah dan kantor, 'memaksa' kami untuk memilih KRL sebagai sarana transportasi kami untuk beraktifitas di dunia kerja. Beruntunglah kami, karena saat ini sudah tersedia KRL dengan label ekspres, sehingga kami terbebas dari pemandangan KRL yang 'miris' itu. Jarak yang lumayan jauh itupun dapat kami tempuh rata-rata dalam waktu 30-45 menit. Jadilah kami tercatat sebagai anggota 'roker' (rombongan kereta).

20 April 2010

Jangan (pernah) sepelekan wanita

Jangan Sepelekan Wanita. Tulisan itu benar-benar menarik perhatian saya. Sekilas ketika saya baca, isinya bertutur mengenai persamaan gender antara pria dan wanita. Bahwa wanita pada masa sekarang ini tidak lagi dipandang sebagai warga kelas dua, di mana setiap saat berada di dalam bayang-bayang pria. Bahwa wanita sekarang ini telah menunjukkan kemampuannya untuk bergerak dan berkaya bahkan di bidang-bidang yang selalu didominasi oleh kaum pria. Bahwa wanita sekarang ini punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan berkarier setinggi-tingginya dan seterusnya..dan seterusnya...
 

Dalam konteks yang berbeda saya memang setuju dengan ungkapan itu. Tak dapat dipungkiri keberadaan manusia tidak terlepas dari peran wanita-wanita sebagai ibu mereka yang telah menghadirkan mereka di dunia ini. Tak dapat dipungkiri pula di balik orang-orang besar terdapat peran wanita di belakangnya, minimal peran sang ibu yang telah membesarkan dan memberikan padanya pendidikan dasar.
Tengoklah pada sejarah. Banyak tokoh-tokoh besar yang dibalik kesuksesan mereka ada peran seorang wanita yang terlibat di dalamnya. Rasulullah, Muhammad SAW, dalam kesuksesan dakwahnya pun tak terlepas dari peran wanita yaitu istri-istri beliau dan kaum wanita pada saat itu yang istiqomah memegang teguh keyakinan terhadap ajaran Islam yang disebarkan Nabi Muhammad. Seorang Julius Caesar di balik kehebatannya ada Cleopatra di dalamnya, seorang Hitler bahkan Napoleon Bonaparte pun terlibat wanita dalam kisahnya mengukir sejarah. Seorang mantan penguasa di negeri ini pun konon katanya dalam kepemimpinannya didominasi oleh sang istri dalam pengambilan kebijakan-kebijakan yang diterapkan. Beberapa waktu yang lalu pun santer diberitakan 'kejatuhan' seorang pejuang anti korupsi juga karena ulah seorang wanita. Dan mungkin juga masih segar dalam ingatan ketika seorang 'idola' yang dianggap menjadi panutan akhirnya tenggelam dari pemberitaan juga karena keputusannya menduakan wanita.