
Berbicara mengenai Hari Ibu, yang terlintas di benak kita tentunya peran & jasa-jasa ibu bagi anak-anaknya dan keluarga serta peran para wanita lainnya pada umumnya. Jasa dan kasih sayang ibu itu sudah pasti tak terhingga. Namun bagi segolongan orang, Hari Ibu juga dianggap sebagai momen untuk menunjukkan kemampuan para wanita berkiprah di dunia kerja, serta kiprah mereka dalam keluarga. Memang tak ada salahnya di balik tuntutan keinginan hidup yang layak serta keinginan memberikan kontribusi kepada masyarakat akan ilmu yang dimilikinya, para wanita, istri dan para ibu turut serta berkiprah di masyarakat. Hanya saja, menurut saya, batasan-batasan untuk berkiprah itu tetaplah harus ada dan dipatuhi. Namun bagi kaum feminis, kesetaraan gender menjadi topik yang memang harus diperjuangkan. Yah, berbeda pendapat itu pun juga hal yang biasa, asalkan masing-masing tetap bertanggung jawab atas pilihannya.
Bertepatan dengan hari ini, yang terlintas di benak saya saat ini bukan hanya bagaimana jasa-jasa ibu buat kita. Itu sih sudah pasti dan tak perlu diperdebatkan lagi. Yang terpikirkan di benak saya justru cerita-cerita, pengalaman dari berbagai sumber tentang para ibu yang saat ini berperan ganda. Ya sebagai istri, ibu dari anak-anaknya dan juga sebagai seorang yang bekerja di luar rumah. Entah itu untuk turut mencari nafkah ataukah hanya sekedar hobi menyalurkan keinginan untuk dapat berekspresi di masyarakat.
Ketika saya bertugas di Jawa Timur, ada cerita seorang kawan yang sampai saat ini masih saya ingat dan benar-benar saya ambil pelajaran dari pengalamannya. Tersebutlah kawan saya itu sebagai seorang istri pejabat di salah satu BUMN terkemuka. Beliau mempunyai 3 orang putra yang jaraknya satu sama lain tidak terpaut jauh. Hari-hari kegiatannya selalu penuh dengan acara. Di samping beliau sebagai pegawai, beliau pun tak jarang harus mengikuti & menjadi pelaksana acara dari kegiatan-kegiatan "sampingan" di kantor suaminya.
