22 Agustus 2009

10 Pohon Ramadhan

Oleh: Ulis Tofa, Lc

dakwatuna.com - Ibarat sebuah tanaman, maka amaliyah Ramadhan adalah pohonnya. Mediumnya adalah bulan Ramadhan. Pohon apa yang kita tanam di medium Ramadhan, itulah yang akan kita petik, itulah yang akan kita nikmati. Karena “siapa menanam dia yang menuai”.
Pertanyaannya; Pohon apa saja yang perlu kita tanam di bulan suci ini?
Paling tidak ada 10 pohon Ramadhan yang mesti kita tanam di medium bulan Ramadhan ini:

Pohon pertama, shaum. Tidak sekedar menahan hal yang membatalkan shaum –makan, minum dan berhubungan biologis- dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari saja. Karena, kalau hanya sekedar menahan yang demikian, boleh jadi anak kecil, usia SD bisa melakukannya. Betapa anak-anak kita sudah belajar shaum semenjak dibangku sekolah bukan?
Nah, kalau demikian, apa bedanya shaumnya kita dengan mereka?
Harus ada nilai lebih, yaitu menjaga dari yang membatalkan nilai dan pahala shaum.
Apa yang membatalkan nilai shaum. Di antaranya bohong, ghibah, namimah, mengumpat, hasud dan penyakit hati lainnya. Dengan demikian, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan anggota badan kita ikut serta shaum.
“Betapa banyak orang yang shaum, tidak mendapatkan sesuatu kecuali hanya rasa lapar dan dahaga semata.” Begitu penegasan Rasulullah saw.



16 Juli 2009

Renungan dari Rumah Sakit

Saat ini banyak rumah sakit tersebar di berbagai daerah. Tak hanya rumah sakit pemerintah, rumah sakit yang dikelola swasta pun mulai banyak muncul bahkan dengan penawaran fasilitas yang jauh lebih baik dari rumah sakit pemerintah. Namun walaupun rumah sakit menawarkan fasilitas sekelas hotel berbintang, andai bisa memilih, tentunya kita tak ingin menginap dan masuk untuk menjalani perawatan di sana. Ya, karena kita memilih untuk tetap diberi kesehatan lahir dan batin daripada harus menderita sakit apalagi harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Bicara mengenai rumah sakit, saya pernah punya pengalaman 'tinggal dan menginap' di sana, alhamdulillah bukan karena sakit, tapi karena menemani ibu yang harus dirawat karena penyakit diabetesnya. Ibu pernah dirawat di dua rumah sakit yang berbeda, satu kali di rumah sakit pemerintah di Samarinda dan satu kali di sebuah rumah sakit swasta di tempat saya tinggal sekarang ini. Kalau kita coba bandingkan, tentu saja akan kita temukan perbedaan di antara keduanya. Perbedaan itu justru tertuju pada satu titik yang amat penting dan utama, yaitu 'pelayanan' dan 'administrasi'.
Ketika ibu sakit dan dinyatakan harus dirawat di Samarinda, kami mencoba mencari informasi rumah sakit yang 'bagus' dalam arti bagus dalam perawatan dan pelayanan serta fasilitas yang tersedia. Pilihan kami akhirnya tertuju ke salah satu rumah sakit milik pemerintah namun kami memilih bagian faviliun yang nota bene milik yayasan rumah sakit tersebut. Jadi bisa dikatakan semi swasta. Kami pilih rumah sakit tersebut disamping karena tawaran mengenai fasilitasnya namun juga karena dokter yang merawat ibu memang bertugas di sana.



09 Juli 2009

Mutasi oh... mutasi

Beberapa hari yang lalu seorang teman lama menelpon saya. Dengan nada gembira dia mengabarkan bahwa dalam waktu dekat ini dia akan berangkat ke Jawa Timur karena untuk periode ini dia termasuk orang yanga'kena rolling'. Tentu saja berita itu membuatnya bahagia. Betapa tidak, hampir 5 tahun-an dia berada di tanah Kalimantan. Sementara, sebagai anak tunggal dia menjadi harapan orang tuanya untuk turut merawat dan menemani mereka di usianya yang sudah memasuki 'senja'. Ya, walaupun tidak tepat ke kota asal, setidaknya jarak tempuh dan biaya untuk dapat sewaktu-waktu pulang tidak lagi menjadi kendala.
Dan dia tidak sendiri. Beberapa teman yang juga saya kenal, menyatakan kegembiraannya. Bahagia rasanya bisa kembali ke pulau Jawa. Tempat 'impian' terutama bagi mereka yang sudah beberapa lama terlunta-lunta, tersebar di pulau-pulau di seluruh nusantara ini.



18 Juni 2009

Mengenang Ibunda, Catatan hari-hari terakhir


30 Mei 2009
Hari ini, seperti biasa adalah jadwal ibu untuk melakukan kontrol gula darah. Pagi-pagi kami ke RS Sari Asih Serang, ibu masuk laboratorium untuk check up glukosa puasa dan fungsi ginjal. Pulang sebentar untuk kemudian kembali dua jam lagi, check up glukosa 2 jam PP. Hasil diterima, langsung konsultasi dengan Dr. Herman Prabowo, beliau dokter spesialis penyakit dalam. Indeks gula darah dalam 20 hari terakhir begitu bagus, normal, berkisar di 118-120-an. Perkembangan yang cukup menggembirakan bagi kami. Tapi penjelasan dokter membuat kami terhenyak! Indeks ureum & kreatinin justru tambah naik dari saat pemeriksaan sebelumnya, nilainya mencapai 122 dan 5,6. Berbekal dari hasil lab tersebut dokter meminta kami untuk melakukan USG ginjal dan foto rontgen jantung. Seharian kami di sana dan hasilnya sungguh di luar dugaan! Jantung mulai membesar dan di dalam ginjal ibu terdapat batu yang menutup saluran air seni sehingga cairan dari ginjal tidak dapat terbuang. Itulah yang menyebabkan ginjal sebelah kanan membengkak. Saran dari Dr. Herman, segera konsultasi ke Dr Spesialisasi Urologi!


26 Mei 2009

Bersama kita bisa! (bukan kampanye lho....)

Manusia sebagai makhluk sosial , tidak mungkin dapat hidup sendiri. Sudah menjadi hukum alam bahwa manusia selalu memerlukan bantuan dari lingkungan di sekelilingnya. Karenanya, interaksi sosial menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan seorang manusia. Beban sebesar apapun dapat terasa lebih ringan bila kita bersama-sama menanggungnya.

Dalam kehidupan berumah tangga, pekerjaan rumah akan lebih terasa ringan bila seluruh isi rumah turut serta mengerjakannya, minimal untuk kebutuhan dirinya sendiri. Hal ini sudah terbukti dalam keluarga kami. Contohnya saat pembantu di rumah kami berhenti karena suatu alasan. Tentunya keadaan ini membuat saya repot luar biasa, apalagi di saat jatah cuti sudah tidak ada lagi. Mau tidak mau antara pekerjaan rumah dan kantor keduanya harus tetap dijalani. Di satu sisi pekerjaan rumah yang tak ada habisnya harus dikerjakan, di sisi lain tugas dan tanggung jawab di kantor pun harus diselesaikan. Waktu yang tersedia selama 24 jam rasanya teramat singkat. Pekerjaan satu belum selesai harus mengerjakan pekerjaan lain yang memang sudah menunggu untuk dikerjakan. Kondisi yang berpotensi untuk membuat stress pelakunya!