Perjalanan hidup seseorang memang tak bisa ditebak. Jauh menerawang pikirnya ke masa-masa yang telah lalu. Namun kemudian dia pun tersadar. Tak ada guna berandai-andai. Hidup sesuai pilihannya harus tetap dihadapi. Itu yang selalu membuatnya tetap tegar. Dia memilih dan berprinsip untuk bertanggung jawab atas apa yang telah menjadi pilihan hatinya.
Dulu, dia adalah seorang "primadona" yang kecantikannya begitu terpancar jelas. Begitu banyak 'kumbang' yang ingin mendekatinya. Tapi dengan kekerasan hatinya, tak ingin dia diatur apalagi untuk menentukan jodohnya. Dia yang terlahir dan dibesarkan dalam kalangan ningrat, kalangan keluarga yang terpandang kala itu, tak pernah sekalipun membeda-bedakan asal-usul seseorang. Baginya semua orang sama, terlahir di dunia tanpa apa-apa dan suatu saat akan kembali kepada 'Yang Mencipta' pun tanpa membawa apa-apa. Semua harta dan gelar yang dipunyai pasti akan ditinggalkan.
19 Oktober 2009
04 September 2009
Aya-aya (deui) wae....
Cerita 2
Si Akang sekarang kerja di Jakarta. Karena dia termasuk pegawai yang terampil, mau belajar dan berdedikasi tinggi, si Akang mulai mendapat kepercayaan sang boss menjadi asisten di sekretariat kantor. Si Akang mulai membenahi diri dan penampilannya, karena kadang-kadang diminta sang boss untuk mendampingi beliau pada acara-acara tertentu.
Penampilan pertama yang menjadi perhatian si akang adalah caranya berpakaian. Berusaha tampil rapi dan mengikuti mode terbaru. Walau kadang-kadang malah 'terlihat aneh' alias kena 'kormod' (korban mode). Tapi dasar si akang, apapun yang terjadi, pe-de aja lagi!
Hal kedua mulai memperhatikan perawatan tubuh. Dari potongan rambut, sampai perawatan jerawat yang tanpa malu-malu memamerkan diri, bertebaran di muka si Akang. Tapi satu hal yang belum dilakukan si Akang adalah membereskan giginya yang tidak mau ngantri, berjubelan semaunya sendiri. Rasa pe-de nya belum ada kalau harus berhadapan dengan dokter gigi.
Si Akang sekarang kerja di Jakarta. Karena dia termasuk pegawai yang terampil, mau belajar dan berdedikasi tinggi, si Akang mulai mendapat kepercayaan sang boss menjadi asisten di sekretariat kantor. Si Akang mulai membenahi diri dan penampilannya, karena kadang-kadang diminta sang boss untuk mendampingi beliau pada acara-acara tertentu.
Penampilan pertama yang menjadi perhatian si akang adalah caranya berpakaian. Berusaha tampil rapi dan mengikuti mode terbaru. Walau kadang-kadang malah 'terlihat aneh' alias kena 'kormod' (korban mode). Tapi dasar si akang, apapun yang terjadi, pe-de aja lagi!
Hal kedua mulai memperhatikan perawatan tubuh. Dari potongan rambut, sampai perawatan jerawat yang tanpa malu-malu memamerkan diri, bertebaran di muka si Akang. Tapi satu hal yang belum dilakukan si Akang adalah membereskan giginya yang tidak mau ngantri, berjubelan semaunya sendiri. Rasa pe-de nya belum ada kalau harus berhadapan dengan dokter gigi.
22 Agustus 2009
10 Pohon Ramadhan
21/8/2009 | 28 Sya'ban 1430 H | Hits: 1,552
Oleh: Ulis Tofa, Lc
Ilustrasi, Pohon Ramadhan
Pertanyaannya; Pohon apa saja yang perlu kita tanam di bulan suci ini?
Paling tidak ada 10 pohon Ramadhan yang mesti kita tanam di medium bulan Ramadhan ini:
Pohon pertama, shaum. Tidak sekedar menahan hal yang membatalkan shaum –makan, minum dan berhubungan biologis- dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari saja. Karena, kalau hanya sekedar menahan yang demikian, boleh jadi anak kecil, usia SD bisa melakukannya. Betapa anak-anak kita sudah belajar shaum semenjak dibangku sekolah bukan?
Nah, kalau demikian, apa bedanya shaumnya kita dengan mereka?
Harus ada nilai lebih, yaitu menjaga dari yang membatalkan nilai dan pahala shaum.
Apa yang membatalkan nilai shaum. Di antaranya bohong, ghibah, namimah, mengumpat, hasud dan penyakit hati lainnya. Dengan demikian, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan anggota badan kita ikut serta shaum.
“Betapa banyak orang yang shaum, tidak mendapatkan sesuatu kecuali hanya rasa lapar dan dahaga semata.” Begitu penegasan Rasulullah saw.
16 Juli 2009
Renungan dari Rumah Sakit
Saat ini banyak rumah sakit tersebar di berbagai daerah. Tak hanya rumah sakit pemerintah, rumah sakit yang dikelola swasta pun mulai banyak muncul bahkan dengan penawaran fasilitas yang jauh lebih baik dari rumah sakit pemerintah. Namun walaupun rumah sakit menawarkan fasilitas sekelas hotel berbintang, andai bisa memilih, tentunya kita tak ingin menginap dan masuk untuk menjalani perawatan di sana. Ya, karena kita memilih untuk tetap diberi kesehatan lahir dan batin daripada harus menderita sakit apalagi harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Bicara mengenai rumah sakit, saya pernah punya pengalaman 'tinggal dan menginap' di sana, alhamdulillah bukan karena sakit, tapi karena menemani ibu yang harus dirawat karena penyakit diabetesnya. Ibu pernah dirawat di dua rumah sakit yang berbeda, satu kali di rumah sakit pemerintah di Samarinda dan satu kali di sebuah rumah sakit swasta di tempat saya tinggal sekarang ini. Kalau kita coba bandingkan, tentu saja akan kita temukan perbedaan di antara keduanya. Perbedaan itu justru tertuju pada satu titik yang amat penting dan utama, yaitu 'pelayanan' dan 'administrasi'.
Ketika ibu sakit dan dinyatakan harus dirawat di Samarinda, kami mencoba mencari informasi rumah sakit yang 'bagus' dalam arti bagus dalam perawatan dan pelayanan serta fasilitas yang tersedia. Pilihan kami akhirnya tertuju ke salah satu rumah sakit milik pemerintah namun kami memilih bagian faviliun yang nota bene milik yayasan rumah sakit tersebut. Jadi bisa dikatakan semi swasta. Kami pilih rumah sakit tersebut disamping karena tawaran mengenai fasilitasnya namun juga karena dokter yang merawat ibu memang bertugas di sana.
Bicara mengenai rumah sakit, saya pernah punya pengalaman 'tinggal dan menginap' di sana, alhamdulillah bukan karena sakit, tapi karena menemani ibu yang harus dirawat karena penyakit diabetesnya. Ibu pernah dirawat di dua rumah sakit yang berbeda, satu kali di rumah sakit pemerintah di Samarinda dan satu kali di sebuah rumah sakit swasta di tempat saya tinggal sekarang ini. Kalau kita coba bandingkan, tentu saja akan kita temukan perbedaan di antara keduanya. Perbedaan itu justru tertuju pada satu titik yang amat penting dan utama, yaitu 'pelayanan' dan 'administrasi'.
Ketika ibu sakit dan dinyatakan harus dirawat di Samarinda, kami mencoba mencari informasi rumah sakit yang 'bagus' dalam arti bagus dalam perawatan dan pelayanan serta fasilitas yang tersedia. Pilihan kami akhirnya tertuju ke salah satu rumah sakit milik pemerintah namun kami memilih bagian faviliun yang nota bene milik yayasan rumah sakit tersebut. Jadi bisa dikatakan semi swasta. Kami pilih rumah sakit tersebut disamping karena tawaran mengenai fasilitasnya namun juga karena dokter yang merawat ibu memang bertugas di sana.
09 Juli 2009
Mutasi oh... mutasi
Beberapa hari yang lalu seorang teman lama menelpon saya. Dengan nada gembira dia mengabarkan bahwa dalam waktu dekat ini dia akan berangkat ke Jawa Timur karena untuk periode ini dia termasuk orang yanga'kena rolling'. Tentu saja berita itu membuatnya bahagia. Betapa tidak, hampir 5 tahun-an dia berada di tanah Kalimantan. Sementara, sebagai anak tunggal dia menjadi harapan orang tuanya untuk turut merawat dan menemani mereka di usianya yang sudah memasuki 'senja'. Ya, walaupun tidak tepat ke kota asal, setidaknya jarak tempuh dan biaya untuk dapat sewaktu-waktu pulang tidak lagi menjadi kendala.
Dan dia tidak sendiri. Beberapa teman yang juga saya kenal, menyatakan kegembiraannya. Bahagia rasanya bisa kembali ke pulau Jawa. Tempat 'impian' terutama bagi mereka yang sudah beberapa lama terlunta-lunta, tersebar di pulau-pulau di seluruh nusantara ini.
Dan dia tidak sendiri. Beberapa teman yang juga saya kenal, menyatakan kegembiraannya. Bahagia rasanya bisa kembali ke pulau Jawa. Tempat 'impian' terutama bagi mereka yang sudah beberapa lama terlunta-lunta, tersebar di pulau-pulau di seluruh nusantara ini.
Langganan:
Postingan (Atom)