09 Juli 2009

Mutasi oh... mutasi

Beberapa hari yang lalu seorang teman lama menelpon saya. Dengan nada gembira dia mengabarkan bahwa dalam waktu dekat ini dia akan berangkat ke Jawa Timur karena untuk periode ini dia termasuk orang yanga'kena rolling'. Tentu saja berita itu membuatnya bahagia. Betapa tidak, hampir 5 tahun-an dia berada di tanah Kalimantan. Sementara, sebagai anak tunggal dia menjadi harapan orang tuanya untuk turut merawat dan menemani mereka di usianya yang sudah memasuki 'senja'. Ya, walaupun tidak tepat ke kota asal, setidaknya jarak tempuh dan biaya untuk dapat sewaktu-waktu pulang tidak lagi menjadi kendala.
Dan dia tidak sendiri. Beberapa teman yang juga saya kenal, menyatakan kegembiraannya. Bahagia rasanya bisa kembali ke pulau Jawa. Tempat 'impian' terutama bagi mereka yang sudah beberapa lama terlunta-lunta, tersebar di pulau-pulau di seluruh nusantara ini.



Begitu pula kawan lama saya nun jauh di sana, di sebuah pulau kecil di daerah Maluku. Hampir enam tahun sudah dia mendampingi sang suami yang sama-sama dipindah ke daerah sana. Enam tahun yang terbilang 'cukup membuat perasaannya terharu-biru'. Saya ingat ketika suatu saat dia bercerita, ayahnya terkena strooke dan cukup lama dirawat di rumah sakit. Ada keinginan untuk bisa pulang dan melihat keadaan orang tuanya. Namun karena terkendala biaya yang harus disiapkan untuk pulang lumayan tinggi sementara orang tuanya di sana pun memerlukan biaya untuk perawatan di rumah sakit, akhirnya uang yang tadinya untuk ongkos pulang dia transfer untuk menutupi biaya rumah sakit. Secara rutin, dia mengirim uang untuk perawatan ayahnya. Sampai kemudian, Allah berkehendak memanggil sang ayah kembali kepada-Nya. Tak terkira rasa sedih yang harus dia tanggung. Uang tabungan sudah tak ada lagi, kalaupun dia mendapatkan pinjaman uang untuk ongkos pulang, jarak yang harus dia tempuh bukan lagi berbilang jam. Transportasi dari daerah sana pun tersedia hanya pada waktu tertentu. Dan pada akhirnya keadaan yang memaksanya untuk menerima semua itu, dia tak lagi dapat menemui sang ayah walaupun dalam bentuk jasad yang sudah tak bernyawa lagi. 

Beberapa kawan saya harus terpisah keluarganya juga karena mutasi. Kebanyakan dari mereka memilih untuk menjadi bulok (bujang lokal) karena untuk membawa serta keluarganya pindah banyak faktor yang harus dipikirkan. Tak hanya biaya untuk tempat tinggal, ongkos angkut, biaya kepindahan anggota keluarga tapi harus pula dipikirkan biaya kepindahan anak sekolah baik yang materiil maupun non materiil. Mengingat mutasi yang selalu berulang-ulang, dalam jangka waktu yang tidak menentu, antara 3-5 tahun, keputusan untuk 'berpisah' sementara dengan keluargapun akhirnya menjadi pilihan. Belum lagi karena alasan anak-anak yang sudah besar, mereka enggan ikut pindah-pindah karena pertimbangan sosialisasi. Bagi mereka, pindah tempat berarti lingkungan baru, teman baru, sekolah baru, yang bagi sebagian anak mungkin bukan hal yang mudah untuk dijalani. Alasan lain adalah karena pasangan yang sama-sama bekerja yang tidak memungkinkan dirinya untuk pindah mengikuti istri/suaminya. Ada pula yang memilih berpisah, katanya sih karena 'pilihan hidup' atau atas dasar pendidikan anak, suami-istri yang sama-sama bekerja, ketika sang istri/suami kena mutasi dan dipindah ke lain pulau, keputusan yang mereka ambil adalah menitipkan anak-anak mereka di tempat neneknya yang tidak satu kota dengan sang istri maupun dengan sang suami.

Tapi mutasi pun tidak hanya memberi cerita duka. Mutasi pun banyak membawa berkah. Banyak kawan-kawan saya yang akhirnya ketemu dengan jodohnya karena mutasi! (termasuk saya, tentunya....). Beberapa teman saya bahkan ada yang memutuskan untuk segera menikah sesaat sebelum berangkat menuju penempatan mereka selepas kuliah. Ada pula yang karena penempatan di tempat yang sama, akhirnya menikah juga, walaupun sebelumnya tidak pernah terdengar kabar kedekatan mereka semasa kuliah. Ya, mungkin pepatah jawa di sini berlaku, witing tresno jalaran soko kulino (mudah-mudahan nggak salah tulis nih...) Bicara tentang jodoh, memang hal ini menjadi rahasia Allah. Teman-teman saya pun tak pernah mengira kalau akhirnya mereka mendapatkan jodohnya di tempat mereka bekerja. Hal positif yang bisa kita ambil, adalah dengan mutasi ini memunculkan pasangan-pasangan nusantara. Benarlah apa yang menjadi slogan negara kita, bhineka tunggal ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Ya disatukan dengan tali pernikahan!

Dalam setiap kejadian, tentunya ada hikmah di balik itu, begitu kata-kata bijak yang sering kita dengar. Sama halnya dengan mutasi. Banyak hikmah yang bisa didapat, bila kita cermat. Setidaknya kita jadi tahu daerah-daerah di wilayah Indonesia ini, tanpa perlu mengeluarkan biaya sendiri alias gratis. Mengenal dan memahami budaya bahkan mencoba mempelajari bahasa suku-suku lain. Lebih banyak teman, menambah saudara di tempat-tempat yang pernah disinggahi. Saya pribadi merasa, di tempat perantauan, rasa persaudaraan menjadi lebih kuat. Dan keharmonian hidup dalam ikatan persaudaraan itu terasa begitu indah, walaupun sebelumnya tidak pernah saling mengenal. Walaupun berasal dari tempat-tempat yang berbeda satu dan lainnya. Mungkin suatu saat, perjalanan hidup ini akan menjadi cerita yang menarik untuk 'dongeng' anak cucu kita nantinya.

Mutasi. Kata-kata itu begitu sederhana, tapi bagi kami, 'para penghuni' rumah DJPBN menjadi suatu kata yang punya daya magnet yang kuat. Mutasi, sering kali dinanti-nanti, terutama bagi mereka yang pas kebagian 'lemparan' di luar pulau Jawa. Walaupun pada kenyataannya, banyak terjadi harapan untuk kembali ke Jawa harus ditelan kembali karena ternyata mutasi yang dinanti melemparkannya kembali ke pulau lain. Tapi bagi mereka yang sedang menikmati kenyamanan hidup di Jawa, kata mutasi menjadi sesuatu yang menakutkan. Walaupun beberapa dari mereka pun ada yang tetap berputar-putar di 'pulau impian' ini, bahkan ada yang hanya berpindah jalur angkutan saja karena putaran mereka hanya ibarat 'gasing' kecil, dalam skoop yang kecil, hanya dari kantor satu ke kantor lain atau dari direktorat satu ke direktorat lainnya di Jakarta!
Ada yang berteriak, adilkah ini? Tapi teriakan dan protes kiranya hanya seperti angin lalu, yang dalam sekejap bisa hilang ditelan waktu dan kembali tenang.
Itulah, mutasi mungkin sudah menjadi 'garis tangan' kami, walaupun tidak dapat dipungkiri ada pula yang mengandalkan 'campur tangan' dari orang-orang yang sedang memegang sedikit kekuasaan.
Tapi apapun keadaanya, seperti kata seorang teman, mutasi adalah sesuatu yang pasti, yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Jadi ibarat kematian, tak perlu lagi dinanti. Terima, jalani, nikmati dan pasrah...

3 komentar:

yan mengatakan...

Duh ceritanya asyik sekali Bu.
Jadi inget kisah orang-orang yang selalu hidup dalam ketidakpastian karena mutasi.

Salam hormat untuk boss Haris DJPK Bu.

Dari :
temannya dari temannya temannya


Pri

Damar Who Land mengatakan...

itu cerita yang mengharukan teh ... tp memang penuh makna ... selalu ada hikmah di balik semua takdir ALLOH ...

Cak RaYZa mengatakan...

Wah ternyata nge blog juga teteh nora..
heheh... Mutasi emang salah satu yang ditunggu dan dicemaskan... Kadang memberi kebahagiaan kadang memberi kekecewaan.....